Tulisan
ini dikumpulkan dari donasi teman-teman yang dengan terbuka memaparkan
unek-uneknya meski bukan cerita suka cita. Sambil berkeringat semangat atau
dengan pasang muka masam bin suntuk yang buat saya ikut mengerut. Bisa karena
tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan saking berbelitnya atau ikut miris
dengan perjuangan mereka untuk menuntut ilmu. Apalagi kalau bukan tentang bus
unsri yang urgent namun dangerous.
Kesemua koresponden setuju kalau tranportasi
utama universitas ini lebih banyak modarat dari faedahnya. Salah satunya adalah
“perang sikut”. Istilah itu saya dengar pertama dari seorang teman di fakultas
ekomoni. Kabarnya perang yang satu ini tidak kenal gender. Lelaki-perempuan, muslimah-kristian,
kalau ingin cepat sampai tujuan harus siapkan sikut tajam mereka.



