Sabokingking, nama asing bagi saya ketika pertama kali di ajak salah satu teman untuk ikut penyuluhan hukum, kegiatan fakultas, di sana. Pikir saya, sejenis tempat latihan tinju atau sumo. Bahkan sempat terbesit itu tempat prostitusi. Perkiraan awal saya saat masih di dalam mobil yang penuh kotak snack dan dengan kepala yang tersangkut tiang layar manual proyektor yang kami bawa, Sabokingking ada di pedalaman. Melewati bukit, masuk ke desa-desa, menyeberangi jembatan, melintasi barisan pohon-pohon teratur dan memakan waktu lama untuk sampai. Tapi ternyata, dari daerah IBA di Jalan Mayor Ruslan tempat kami berkumpul lebih kurang setengah jam. Tepatnya di Jalan Sabokingking, kelurahan Sungai Buah kecamatan Ilir Timur II.
Dari spanduk di dalam mobil yang saya baca,
Sabokingking adalah situs bersejarah. Namun herannya tidak tampak seperti
demikian. Letaknya yang masuk melalui lorong sempit dan dekat dengan rawa serta
kolam juga ditengah permukiman warga, makam itu tampak tidak beda jauh dengan
masjid yang ada di depannya. Warna bangunannya hijau, sepertinya baru dicat
ketika kami datang, tempatnya bersih dan asri dengan pohon-pohon rindang dan
kolam luas di sekelilingnya. Untuk berjalan menuju bangunan pun kita melewati
jalan setapak di antara genangan air kolam.





.jpg)




