Sabtu, 31 Desember 2011

Muffin Nyaris Gagal


Pencuci mulut untuk malam tahun baru kali ini. Muffin. Saya sudah lama mupeng ingin membuat makanan yang satu ini. Akhirnya kesampean juga. Meski hasilnya "nyaris" gagal. Bukan soal rasa. Rasanya tetap coklat dan manis. Tapi bentuknya, absurd. Dari luar memang cantik. Tapi dalamnya rentan dan mudah hancur. Selain karena saya sedikit melenceng dari rule, yang harusnya dikukus tapi muffin ini saya panggang, alibi lainnya adalah karena tidak sabaran. Wkwkwk, itu penyakit kritis.
Resepnya didapat dari internet juga. Namun saya tahu diri kok dan tidak akan menyalahkan resep berikut:

Sukarno Urban Bust by Damn! I Love Indonesia



Setelah meluncurkan Urban Batik, April 2011 lalu kini Damn! I Love Indonesia kembali bereksplorasi dengan menjargonkan Sukarno Urban Bust melalui Damn Supra Color Limited Edition Sukarno Urban Bust. Project yang keluar 26 Oktober ini turut menyemarakkan Hari Sumpah Pemuda. Dikutip dari ikebayoran.com, pemilik label Damn! I Love Indonesia, Daniel Mananta ingin menginternasionalkan karya bangsa melalui bust ini serta menyuarakan kembali semangat patriotisme.

Kamis, 29 Desember 2011

Orang Baik


Hari ini semua orang begitu mendukung dan menguntungkan. Termasuk Koko yang tadi mencoba mengelabui atau kegiatan mendorong mio yang stak karena tangki yang melompong. Tapi untungnya bertemu orang-orang kaya hati meski sekilas tampak tidak kaya harta. Tiga orang sedehana yang dekil tapi berwajah cerah -itu sih yang saya tangkap ketika mereka membantu-.

Seorang petugas kuning yang penuh keringat kemudian menegur gadis sok kota yang tidak pernah mendorong motor dengan alasan habis bensin pula. Itu saya sendiri. Tapi sejujurnya, saya tidak malu. Malah bangga karena pernah merasakan mendorong motor mogok yang habis bensin meski alasan utamanya bukan karena kantong bolong. Saya yakin tidak semua gadis, terlebih di kampus, pernah diklakson rentetan panjang mobil ditengah traffic light yang sudah hijau.

Sabtu, 17 Desember 2011

Caraku Mencintaimu - Pingkan Mambo



Aku bukan wanita yang mudah katakan sayang
Cukup kau tahu saja dengan sgala sikapku
Takkan ku umbar kata, sejuta perasaan ini
Karna kita tak tahu esok kan bagaimana
Aku takkan mengumbar kata cinta
Biarkanlah engkau yang tahu diriku ini
Kau ku cinta dengan caraku
Cukup kau nikmati caraku mencintaimu
Aku memang berbeda dengan wanita yang lain
Jangan paksa aku untuk jadi yang kau inginkan
oh uohoo
Cukup jalani saja ikuti hati kecilmu
Bila kau cintai diriku cintailah aku
Aku takkan mengumbar kata cinta
Biarkan lah engkau yang tahu diriku ini
Kau kucinta dengan caraku
Cukup kau nikmati caraku mencintaimu

Organisator Penggemar Olahraga Mengubah pandangan orang tidak semudah membalikkan telapak tangan



Tertarik di bidang sosial dan merasa tertantang pada kasus-kasus kriminalitas, mahasiswa kelahiran Pagaralam, 1 Januari ini menyakini profesi polisi sebagai cita-citanya. Dengan program kejurusan pidana yang diambilnya sekarang, Royke Marsada Takwa merasa ingin lebih berkorban untuk masyarakat. Selain itu Wawa, sapaan akrabnya, juga terinspirasi dari sang kakak Royke Sembayu yang telah berhasil menjadi anggota TNI.

Urgensi Bus Unsri yang Dangerous


Tulisan ini dikumpulkan dari donasi teman-teman yang dengan terbuka memaparkan unek-uneknya meski bukan cerita suka cita. Sambil berkeringat semangat atau dengan pasang muka masam bin suntuk yang buat saya ikut mengerut. Bisa karena tidak mengerti bahasa yang mereka gunakan saking berbelitnya atau ikut miris dengan perjuangan mereka untuk menuntut ilmu. Apalagi kalau bukan tentang bus unsri yang urgent namun dangerous.
 Kesemua koresponden setuju kalau tranportasi utama universitas ini lebih banyak modarat dari faedahnya. Salah satunya adalah “perang sikut”. Istilah itu saya dengar pertama dari seorang teman di fakultas ekomoni. Kabarnya perang yang satu ini tidak kenal gender. Lelaki-perempuan, muslimah-kristian, kalau ingin cepat sampai tujuan harus siapkan sikut tajam mereka.

Pelatihan Penulisan Publikasi Ilmiah

Meningkatkan Kualitas Menulis Untuk Memunculkan Trademark Seorang Akademis



Palembang, Media Sriwijaya – Diawali dengan kata sambutan oleh ketua panitia Putu Samawati, S.H., M.H. Pelatihan Penulisan Publikasi Ilmiah, Sabtu (30/10) berjalan lancar. Meski diawal acara yang dibuka oleh dekan Fakultas Hukum Unsri ini sempat molor dari waktu yang ditentukan, pukul 09.00 WIB, kegiatan yang akan diadakan secara rutin ini tetap berlangsung sesuai rencana. Diruang Zainal Abidin Fakultas Hukum kampus Palembang baik dosen maupun mahasiswa ikut berpartisipasi dengan pembawa acara Siti Annisa dan moderator Hamonangan Albariansyah, S.H., M.H.
Sebagai pemateri pertama Prof. Joni Emirzon, S.H., M.Hum. memberi judul materinya Jenis Publikasi Ilmiah dan Tata Cara Mempublikasikan Tulisan Ilmiah. Selain memaparkan seputar publikasi, buku dan jurnal, Profesor yang telah menulis kurang lebih tiga puluh judul melalui jurnal ini juga menerangkan syarat-syarat tulisan yang dapat diterima oleh penerbit diantaranya substansi satu masalah dalam satu bidang ilmu, memenuhi kaidah penulisan ilmiah yang utuh ( rumusan masalah, pemecahan masalah, dukungan teori mutakhir, kesimpulan dan daftar pustaka ), menggunakan bahasa Indonesia dan atau bahasa Inggris, memiliki ISSN ( International standart of Serial Number ), diedarkan secara nasional, dan terakreditasi DIKTI atau tidak kerakreditasi DIKTI. “ Menulis karya ilmiah akan memunculkan trademark seorang kalangan akademis. “ ujar Profesor Joni. Ditambahkannya bahwa jurnal yang memiliki website akan meningkatkan akreditasinya begitu pula dengan buku yang disertai indeks didalamnya. Diupayakan kepada dosen-dosen  untuk meningkatkan kualitas menulis ilmiahnya agar mampu memikat penerbit besar untuk menampung dan mempublikasikan kreatifitasnya tanpa mengeluarkan biaya, sambung beliau sebelum menutup makalahnya.
            Dosen lain yang ikut andil menjadi pemateri dalam kegiatan ini, Dr. Muhammad Syaifuddin, S.H., M.Hum., menerangkan tulisan ilmiah hukum berkisar filsafat, paradigma dan struktur penulisan artikel serta strategi publikasinya dalam berkala ilmiah hukum. Dalam sesi pertama tanya jawab Wahyu Erna NIngsih, S.H., M.Hum., dosen dari Fakultas Hukum,  mengajukan pertanyaan seputar yang berhak mendapatkan akreditasi dalam penulisan jurnal juga seberapa linearnya jurnal yang terakreditasi. Pertanyaan kedua dari Syahmin AK., S.H., M.H mengenai penyeleksian jurnal oleh DIKTI. Dijelaskan bahwa DIKTI menyeleksi jurnal sesuai bidang dan keilmuannya juga memperhatikan teknis pasca penulisan dan format penulisan termasuk RSUP ( Relevansi, Spesifikasi, Urgensi dan Priorly ) yang normative dan empiris.
            Di sesi kedua pelatihan,  Prof. Dr. Hj. Ratu Wardarita, M.Pd. yang merupakan guru besar dan asisten direktur I PPS Universitas PGRI Palembang menyampaikan makalahnya tentang penggunaan bahasa Indonesia dalam artikel ilmiah. Menurut beliau bahasa hukum memiliki spesifikasi khusus yang menambah khasanah orientasi bahasa hukum dibandingkan bahasa lainnya.
Sempat terjadi perbedatan kecil antara dosen kopertis wilayah II ini dengan Amrullah Arpan , S.H., S.U. mengenai bahasa yang baik dan benar. Dosen fakultas hukum itu menempatkan dirinya sebagai orang awam dibidang bahasa dan beranggapan bahasa yang baik belum tentu benar tapi yang benar pasti baik. “ Semuanya disesuaikan dengan situasi.  Untuk itu baik dan benar digunakan menjadi point pementunya. “ jawab Ratu Wardarita meski masih dibalas beberapa pertanyaan yang sama berulang kali.
Makalah terakhir berjudul Sistematika dan Teknik Penulisan Artikel Ilmiah oleh Usmawadi, S.H., M.H.. Makalah tujuh belas lembar itu dijelaskan penuh canda dan agak tergesa-gesa dikarenakan waktu yang mepet. Dengan singkat beliau menerangkan tentang pentingnya menyertakan kutipan seperti foot note , end note dan catatan perut pada setiap pendapat atau buah pikiran yang dikutip  dari orang lain. Hal ini dimaksud untuk memperkuat atau mendukung buah pikir si penulis dan menjadikannya bahan analisis.



Minggu, 11 Desember 2011

Sisi Musi

Foto: Jembatan Ampera, Palembang

Sungai Musi tidak seburuk yang saya bayangkan setahun yang lalu memang. Hingga sekarang sepertinya akan jadi agenda tahunan LPM MS sebagai pengganti Makrab -Malam Akrab istilahnya anak organisasi, yang nggak punya organisasi, bengong!-. Tidak buruk mengarungi sungai lebar yang sedang musim pasangnya itu dengan kapal bermesin bising dan penuh oleh para calon sarjana hukum, Amin.
Tapi selain harga kapal yang naik dua kali lipat dari tahun lalu, mungkin efek SEA GAMES 2011, dan exhibitoin yang merakyat di pinggiran Benteng Kuto Besak tidak ada perubahan signifikan. Air sungainya tetap saja cokelat pekat, nggak penting. Serius, kapal-kapal tengker raksasa tetap meramaikan sungai ini. Surprice-nya, malah bertambah banyak dan sepertinya makin serius dikembangkan. Yang lain, kapal-kapal yang merangkap rumah tidak jauh beda dengan tahun kemarin. Tapi malah jadi pemanis sungai pekat ini. Belum lagi warung terapungnya yang pasti tidak lepas dari makanan yang namanya Pempek. Juga kios minyak berdinding kayu yang dikelilingi ban hitam dan bergoyang-goyang.
Oke, saya tidak akan cari-cari alasan negatif lagi untuk wisata yang satu ini. Untuk masyarakat Palembang sendiri, malu dong tinggal di Palembang tapi tidak pernah mengarungi sungai kotanya sendiri. Sementara untuk yang diluar Palembang, tidak salah jika mencoba membiarkan perahu mengayunkan tubuhmu. Pinggiran Musi tidak seburuk yang dibayangkan kok.Mulai dari perkembangan industri-nya yang mencoba mendunia meski belum tentu merakyat. Budaya menetap di airnya yang hebat, karena saya tidak berani membayangkan tinggal menetap diatas ombak Musi yang belakangan cukup kuat. Di perahu tiga puluh menit saja sudah buat mual. Belum lagi keberagaman agamanya yang dengan apik menyatu di pinggiran sungai. Rumah adat Palembang yang penuh dengan ukiran kuning terang dan cokelat gelap, masjid Al-Ghazali yang bersebelahan dengan pusat agama Budha bersama vihara-nya. Semuanya bersatu tanpa bentrok yang berarti.

Foto: Pulau Kemarau dari kejahuan

Jangan lupa juga mampir ke Pulau Kemarau yang punya legenda romantis tentang pemuda Cina yang ingin menikahi gadis Palembang dan harus mati di Musi menyelamatkan mas kawinnya disusul si gadis yang tidak rela calon suaminya mati sendiri. Tragis.
Tambahannya adalah ke masjid Agung yang megah dan tidak luput dari ukiran kuning terang khas Palembang-nya.

Kamis, 01 Desember 2011

Hilangnya Mata Pencaharian Akibat Pertambangan




Sumber mata pencaharian terbesar penduduk Indonesia adalah pertanian. Tapi apa jadinya bila sumber penghidupan mereka itu didapati sebagai daerah timbunan tambang seperti mineral atau batubara. Apa lagi bila investornya pihak asing yang tidak mengerti bagaimana budaya masyarakat setempat. Meski dalam kenyataannya adalah pemerintah terkait sebagai perwakilan rakyatlah yang melancarkan jalannya usaha “perampasan” mata pencaharian masyarakat oleh asing tersebut.

Selasa, 22 November 2011

Roti Komplit


Ini roti komplit terenak dan paling natural menurut saya, mama, tante-tante saya dan nenek juga bilang begitu. Iya, ini gerobak sudah ada sejak mama gadis. Seingat saya dulu harganya tujuh ribu, naik jadi sembilan ribu lalu naik lagi jadi sebelas ribu hingga sekarang dua belas ribu. Tapi rasanya tetap sama. Katanya nih, dua rasa selai yang mereka punya itu buatan sendiri. Letaknya di jalan Jendral Sudirman, Palembang. Tepatnya sebelum ruko martabak HAR didekat lingkarang masjid Agung itu.
Gerobak ini menghambat sebuah lorong kecil diantara toko jam dan hmm.. saya lupa, mungkin kantor bertutupan pintu kaca hitam atau kalau tidak sebuah optik. Yang jelas begitu sampai di jalan jendral Sudirman dan sudah melewati bank BNI, perlambat lajumu. Tidak jauh dari situ kok.
Selamat menikmati. Slurrrppppp.

Hasil Nonton Breaking Dawn


Dua hari yang lalu saya "berhasil" nonton film yang jadi waiting list-nya para penggemar film. The Twilight Saga, Breaking Dawn. Awalnya sempat kecewa karena pertama bikin janji denga anak Media Sriwijaya dan di hari H mereka pada cancel. Ada yang ngedate sama pacarnya, syukuran di rumah teman, diajak Ibu-nya shopping, mendadak sudah nonton, ada yang lebih milih sensasi delight dari pada melihat senyum manis dan badan seksi Jacob padahal ini akhir bulan yang mengcekik. Lucky-nya sempat sms Shinta di detik-detik terakhir and she say YES!

Minggu, 20 November 2011

Long Trip Today


Jangan bengong melihat map kota Palembang diatas yang saya coreti sedemikian rupa hingga "nyaris" sama dengan yang baru saya lewati seharian ini. Yang lebih tepatnya sih, "nyaris" dengan segala daya dan upaya. Saya tidak mengerti jalur tepatnya yang dilewati tadi. Makanya jadi agak absurd dan terlihat menyeramkan dengan rute panjang itu. Walau yang sebenarnya lebih seperti mendaki gunung dan lewati lembah, ngarang.

Setelah dari rumah saya di perumahan Bukit Sejahtera di daerah bukit kecil dengan menghabiskan persediaan mentega dan tepung lantaran bolak-balik bikin brownies kukus kami lanjut ke rumah om Ijal, kakak mama yang paling tua. Tepatnya sudah masuk di wilayah Banyuasin. Dua jam berlalu dengan makan bakso, cheese cake, bolu, puding cendol, beberapa snack lainnya dan kartu remi dengan bedak putih tebal di wajah. Hha.. saya, adji -adik pertama saya- dan tante Desi bermain "41". Round pertama dan kedua adji kalah telak dan merelakan mukanya dibejek dengan bedak baby. Tapi dua round selanjutnya saya yang kena bedak penuh hingga ke jibab dan dress abu yang buat saya bak "perempuan", itu kata beberapa sepupu remaja saya. Sialan, mereka anggap apa saya selama ini.

Lanjut lagi untuk mampir sebentar ke rumah Pakwo, kakak papa paling tua. Disuguhi bolu, risol segede banteng plus tanduknya, teh hangat yang pas di tengah gerimis dan lelucon-lelucon ringan khas keluarga kami. Perut mama yang kian meruncip juga tidak luput jadi highlight. Habis sudah segitu besarnya sih.

Terakhir nge-drop tante Desi dan keluarga ke rumahnya di perumahan Bukit Raflessia daerah kenten laut. Karena sudah terlalu malam jadi hanya sebentar untuk sholat dan ngangkut mesih jahitnya nenek yang tidak terpakai disana. Tidak sempat menyicipi pempek kulit yang ada di kukasnya deh. Cukup segelas coca-cola yang sudah tidak bergas lagi dan sebatang biskuit sandwich yang limited. How pity?!

Finish di rumah lagi deh. Meski sebelumnya sempat mampir lagi ke gudang papa di daerah bukit Siguntang, dekat masjid Baitullah, untuk menghidupkan lampunya dan melihat-lihat. Habis pak Dam, penjaganya, sudah moving diajak anaknya ke Bandung sih.

Thats all. Bersantai di kamar tercinta. Ruangan tiga kali empat meter bercat biru yang selalu buat saya rindu untuk nyudut disini. 

Sabtu, 19 November 2011

Sabokingking, Cagar Alam untuk Raja Palembang

Palembang – Media Sriwijaya. Menanggapi satu tahun setelah disahkannya UU RI no.11 tahun. 2010, Fakultas Hukum Unsri turut bersumbangsih mengadakan menyuluhan hukum mengenai cagar budaya ini. Minggu (30/10), diawali kata sambutan dari Rd. Muhammad Ikhsan, SH., M.Hum yang selama ini concert mengenai budaya Sumatera Selatan, kegiatan ini melibatkan dosen FH Unsri yaitu, Hamonangan Albariansyah,SH,.MH., Henny Yuningsih, S.H.,MH. dan Artha Febriansyah, SH.,MH,. Sekitar duapuluh mahasiswa ikut serta menyambangi Kompleks Makam Sabokingking di kawasan PT Pusri.

Sabtu, 05 November 2011

Pembangunan

Belakangan ini saya jadi begitu naif dengan meniscakan pembangunan. Terutama rentetan pembangunan di Palembang pasal Sea Games 2011 ini. Melihatnya aneh saja. Namun bukan berarti saya menentang pembangunan itu. Karena secara langsung atau tidak kita pasti akan menikmatinya dan merasakan kemudahan yang ditawarkan. Hanya saja menatap hektaran gedung elok yang klimis dengan macam seni artistiknya kemudian melirik semeter ke sisi lain. Terlihat warung remang unyil dengan perempuan renta dan seorang gadis kecil sebagai pemiliknya. Atau seperti beberapa bulan lalu ketika saya melintas di jalan Kol. H. Burlian yang sedang dalam proses perluasan jalan. Masih terlihat dua-tiga penampel ban yang mulai terhimpit gundukan bekas kerukan tanah. Los mereka yang sudah sangat minim harus terhalang lagi oleh para pekerja dan bahan-bahannya hingga sebagai liang lahat-pun tidak layak lagi. Dua bulan berlalu, setelah pelebaran jalan hampir tahap finishing para penambal ban itu sudah kehilangan lapaknya. Meski bukan itu saja alasannya. Saya yakin masih banyak cerita miris lainnya yang lebih membuat hati teriris.
Huh, semuanya akan berlalu. Semoga para penampal ban itu mendapat lokasi baru. Amin.
*Kacau, sudah selarut ini dan saya masih belum juga nempel di kasur. Padahal besok sholat Idul Adha dan harus bangun subuh buta. Go sleep.*loncat ke rangjang*

Kamis, 27 Oktober 2011

Artikel Sederhana Sarat Makna

http://kickandy.com/corner/5/21/1866/read/Nama-Saya-Selamet-Bagio.html
Artikel yang sederhana tapi menggugah dan tujuannya "mewah". Ceritanya banyak kita temui di lingkungan sekitar. Tapi memang tidak banyak yang bisa mengimplementasikannya sebagai sesuatu yang positif.
Just see :)

Suka Suka Media Sriwijaya


Tidak terasa tiga tahun sudah LPM Media Sriwijaya hadir di lingkungan akademik Universitas Sriwijaya. Masih balita memang. Tapi kami percaya bahwa sesuatu yang besar berawal dari hal-hal kecil . Seperti halnya kesederhanaan yang dibangun dalam keluarga besar Media Sriwijaya dari para sesepunya. Tiga orang mahasiswa cerdas yang aktif menulis dan bertekad untuk maju didukung oleh dosen inspiratif yang penuh motifasi. Hingga sekarang, tujuh belas mahasiswa lainnya turut ambil bagian mengembangkan slogan #TajamMembangunKampus.
Dari ruang tiga kali empat meter yang berubah sesak dengan tujuh belas orang kru kami mencoba survive. Mulai dari rapat redaksi, menyusun program kerja, pembagian job desk setiap kegiatan hingga tukar pikiran atau sekedar nonton DVD bareng sembari mencomot cemilan yang limit. Hal itulah yang membangkitkan kebersamaan. Iya, dengan menumpuk di sekret minim ventilasi, penuh kardus berkas dosen dan beberapa furniture yang menyekat ruangan.
Mencari kesenangan dengan cara berbeda. Itu yang kami cari. Dengan mengumpulkan berita pengisi koran. Berepot ria menyukseskan suatu acara. Stay di depan laptop hingga larut menyusun proposal. Juga dengan ikut seminar free ber-gudie bag menarik yang pematerinya mumpuni. Hasilnya, pengetahuan, pengalaman, teman, sahabat, keluarga.
Tidak mudah menyatukan pendapat dengan ragam argumen yang semuanya punya tujuan untuk membangun. Tapi dengan dasar kekeluargaan sebagai pondasinya kami siap untuk membangun dengan semangat pemuda melalui tulisan.
Kami bangga menjadi keluarga Media Sriwijaya.

Resensi Hukum Untuk Keadilan-Antasari Azhar


Judul         : Antasari Azhar Untuk Hukum dan Keadilan
Penulis      : Servas Pandur
Penerbit    : PT Laras Indra Semesta
Dikumpulkan dari catatan-catatan tangan Antasari Azhar sendiri selama beberapa bulan dipenjara, buku ini tidak hanya berisikan kekecewaaannya terhadap penegakan hukum Indonesia pada kasus yang sedang meninpanya. Tapi juga membahas pandangan-pandangannya terhadap hukum secara global.
Testimoni disini berisi pengetahuan dan pengalaman dari alumni FH Unsri tahun 1981 ini dalam bidang penegakkan hukum selama kira-kira 30 tahun terakhir di wilayah hukum Negar Republik Indonesia (NKRI).
Di buka dengan kata pengantar dari Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. , guru besar Hukum Tata Negara UI ini menuliskan keprihatinannya terhadap kasus yang menimpa  Antasari Azhar. Menurutnya, untuk membayangkan Antasari terlibat dalam urusan pembunuhan terhadap orang yang dianggap menganggu pelaksanaan tugasnya sehari-hari, lalu permasaalahannya pun ia laporkan secara resmi kepada pihak polisi kemudian ternyata orang yang membuat masalah itu dibunuh dengan terencana oleh satu tim pembunuh bayaran yang dikendalikan oleh seorang Ketua KPK bernama Antasari Azhar, sungguh tidak dapat diterima akal sehat. Lebih-lebih ketika mantan Ketua MK-RI ini disuguhi bukti-bukti yang diajukan oleh tim pembela Antasari dan mendengarkan sendiri keluhan-keluhannya hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa Antasari Azhar sungguh-sungguh merupakan korban dari suatu proses “peradilan sesat” (hal.v).
“Aku tetap akan berjalan menegakkan kepala sekalipun disalahkan melakukan sesuatu yang benar. Namun aku pasti tertunduk malu jika dibenarkan melakukan sesuatu yang salah. Antasari Azhar” (hal.xvi)
Proses hukum yang menimpa Antasari Azhar dipaparkan secara rinci dalam 5 (lima) bab buku ini. Bahwa ada keterangan dan bukti-bukti yang diindahkan dalam proses hukum. Mengenai dokumen elektronik yaitu bukti digital berupa ancaman melalui SMS. Dari hasil pemeriksaan ahli yang dibawah sumpah didepan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dalam kotak masuk (inbox) terdapat dua SMS dari nomor milik Antasari Azhar yang masuk ke HP milik Nasrudin Zulkarnaen Iskandar. Karena tidak ditemukan SMS ancaman dari Antasari pada HP Nasrudin, kuasa hukum Antasari meminta pengadilan agar memberi izin analisis call data record (CDR). Namun permintaan tersebut tidak dikabulkan sehingga sampai saat ini tidak/belum dapat diketahui siapa secara materiil yang mengirim SMS ancaman itu.
Tidak luput pula keterang saksi forensik yang dikesampingkan oleh pengadilan, misteri baju dan darah serta peluru dan lobang peluru dalam pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen Iskandar ikut diangkat.
Di luar kasus hukum yang menjeratnya penulis juga menyusupkan pandangan Antasari dalam kasus Anggoro Widjojo, penyelidikkan IT KPU Pemilu tahun 2009 hingga perkara Tommy Soeharto dan pak Harto yang berhenti demi hukum. Untuk perkara yang terakhir ini Antasari mengaitkannya pada tujuan hukum yaitu keadilan dan kebenaran serta menambahkan kebergunaan. Menurut Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH. dalam kata pengantarnya bahwa perspektif kebergunaan juga harus dikepedankan. Pendek kata hukum haruslah dipandang sebagai sesuatu yangk ita butuhkan untuk hidup bersama, bukan sebaliknya seolah-olah kita hidup untuk hukum.
Disisipi dengan foto-foto pribadi juga didukung dengan pendapat ahli dan dasar-dasar empirik penulis menyuguhkan hal yang baru dan merupakan sisi lain dari Antasari Azhar. Serta petikan-petikan kalimat Antasari yang tergolong tegas dan patut didalami. (Rizka)